Filosofi Cendol " DEWA CENDOL "
“Konsep kehidupan itu
hanya sederhana, seperti cendol di dalam gelas semuanya berlawanan ada yang
keras, lunak masam dan manis. Begitulah kehidupan, penuh rintangan yang
bercampur. Kita akan merasakan dulu kerasnya perjuangan, kelatnya kehidupan.
Nyatanya manisnya hidup itu terasa ketika rintangannya telah dilalui. Cendol
pun sama, gula merah itu tidak akan nikmat jika tidak merasakan pahit dan
masamnya cendol. Saya sejak umur 15 tahun berjualan cendol ini, artinya telah
60 tahun sampai sekarang saya berjualan cendol, karena umur saya telah 75 tahun
“ ujar pak Mukhlis bercerita kepada saya.
“ karena umur pak Mukhlis
telah 75 tahun, apa yang bapak harapkan ?” Tanya saya. “ Hanya sederhana saja
yang saya harapkan : reseki yang halal, selalu sehat, dapat mengerjakan sholat
lima waktu sehari semalam dan dapat mengajarkan mengajai buat anak cucu serta
dapat bercengkrama dengan anak cucu dikala sore dan malam tiba, kekayaan tidak
saya harapkan karena akan membuat hidup lebih pahit. Sama halnya orang yang
menginginkan cendolnya untuk dibanyaknya manisan gula enaunya untuk
mengharapkan rasa manis tetapi justru yang didapatkan bertambah pahit kalau
cendol terlalu banyak gula enaunya “ jawab pak Mukhlis.
Sambil meneguk cendol,
saya berfikir terlalu dalam filosofi cendol yang dikemukanan oleh pak Mukhlis .
Bahwa jika ingin merasakan manis, maka rasakan dulu pahitnya. Proses merasakan
rasa pahit atau manis tidak selalu sulit. Dalam pikiran saya terlintas apakah
pak Mukhlis ini menyindir orang yang selalu hidupnya hanya mengejar materi dan
rakus akan jabatan banyak hidupnya berakhir tidak bahagia rumah tangga
berantakan bahkan sisa hidupnya dihabiskan di penjara .Yang jelas berusaha saja
lakukan yang terbaik, seperti meneguk es cendol.
Agama mengajarkan kita
untuk hidup sewajarnya saja tidak perlu berlebihan dalam merespon segala
sesuatu, karena semua yang ada dalam kehidupan hanyalah sementara dan hanya
cobaan saja. Tuhan memberikan petunjuk kepada kita, agar kita hidup sehat dan
selamat baik di dunia maupun di kehidupan abadi di akhirat nanti.
Kita tidak dianjurkan mencintai secara berlebihan.
Cintailah semua yang kamu
sukai tapi ingatlah semua itu akan kamu tinggalkan. “Jika bapak-bapak,
anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang
kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya
dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.(QS,
9:24).
Kita tidak dianjurkan berpakaian dan makan secara berlebihan.
Kita diperintahkan
memakai pakaian yang indah, namun tetap tidak boleh berlebihan : “Hai anak
Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS, 7:31).
Kita dianjurkan tidak hidup boros / menghambur-hamburkan uang.
Agama meminta kita agar
tidak hidup konsumtif dan boros, belilah keperluan secukupnya dan jangan
berlebihan/ boros : “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.( Qs, 17:27).
Kelebihan uang di saat krisis ini sebaiknya dipakai untuk membantu orang yang
kesulitan, juga untuk ditabung. “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang
dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. (QS: 17:26).
Bersedekah untuk pamer juga tidak dibenarkan : “Dan (juga) orang-orang yang
menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang
tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang
mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang
seburuk-buruknya”. (QS, 4: 38).

Komentar
Posting Komentar